SAYA dibesarkan sebagai anak tunggal oleh orangtua yang sangat pemurah dan penyayang. Hampir semua kebutuhan dan sebagian besar keinginan saat masa kecil hingga menjelang dewasa terpenuhi dengan relatif mudah. Saya awam terhadap sibling’s rivalry atau perseteruan antar-saudara kandung karena memang hanya semata wayang. Kemudahan ini memang melegakan, tetapi juga terkadang menyulitkan saat berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga inti. Baru belakangan saya menyadari bahwa saya terlalu sombong untuk bertanya dan terlebih lagi untuk mengakui bahwa saya butuh pertolongan. Kesombongan ini harus dibayar mahal melalui beragam pelajaran hidup yang saya alami. Bagaimana dengan Anda?
Nobody knows everything about anything but everybody knows something. Kesalahan terbesar saya adalah tidak cukup bertanya – saya berdoa kesalahan ini tidak diulangi oleh siapapun, terutama anak-anak saya. Pada saat mendapat kesempatan berbicara di depan publik, saya sungguh senang setiap kali ada yang bertanya. Hal ini menjadikan “kelas-kelas lesehan informal”, seperti @Obsat karya @Enda dan @didinu, #UKMgoesonline besutan @riyeke, atau ajang bincang-bincang virtual seperti @TwitalkID karya @Pungkas – terasa segar karena selalu dipenuhi banyak pertanyaan. Saya mensyukuri setiap pertanyaan yang muncul walaupun belum tentu tahu jawabannya. Kalau dipikir dan dirasakan, tidak ada satu orang pun yang tahu segalanya tentang segala hal sehingga tidak perlu bertanya. Sekarang saya paham bahwa bertanya bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, bertanya adalah wujud kerendah-hatian dan kepedulian atas anugerah Gusti Allah yang bernama kehidupan.
Everybody needs help one way or other – you and I are everybody. Sebuah pertolongan bisa membalikkan keadaan paling sulit jadi lebih mudah. Namun, pertolongan tidak akan datang kalau tidak diminta. Menolak minta bantuan saat benar-benar membutuhkan adalah bentuk arogansi yang hanya akan berujung pada kesulitan dan kesengsaraan tanpa jalan keluar. Pertanyaannya, kenapa masih enggan bertanya dan minta tolong?
Ask and it shall be given to you. Kalimat yang secara harfiah berarti, “Mintalah, maka kau akan memperolehnya..,” adalah kutipan dari Injil yang juga terdapat dalam kitab suci Al Quran dengan variasi penulisan pesan, tetapi bermakna sama. Tidak mengagetkan apabila kitab-kitab suci agama lain juga mungkin memuat ajaran sama yang menggambarkan kaitan erat antara pertanyaan dan pertolongan. Tentu tidak ada yang bisa memahami manusia lebih baik daripada penciptanya.
Everything begins with the willingness to help & to receive help. Saat pertolongan diberikan, manfaat dan keutamaan terbesar justru diterima oleh pemberi pertolongan. Seolah dalam sebuah orkestra, pertanyaan dan pertolongan adalah musik indah yang mengisi kehidupan. Syaratnya cuma satu, yaitu ketulusan.
Bertanya, menolong, dan ditolong adalah tarian kehidupan. Kehidupan pribadi akan jauh lebih bermakna dan seru saat bersentuhan dengan kehidupan orang lain. Dum tempus habemus, operemur bonum.
Rene Suhardono – CareerCoach
Penulis buku: “Your Job is NOT Your Career”
Follow my twitter: @reneCC